Tadi malam,ketika baru tiba di Santika Premiere Semarang,saya langsung masuk ke Coffee Shop. Bukan untuk dinner. Tapi untuk sekedar ngecheck,apa menu breakfast pagi ini! "Nasi Ayam pak Hermawan...nyam nyam, rasanya lebih enak dari yang dipinggir jalan..." Kata manager nya.."Masa sih ?" Saya menggoda...Dengan segala macam alasan,dia berusaha meyakinkan saya akan statement nya..Ya, memang itulah yang saya lakukan setiap kali stay diSantika,dimanapun..Ngecheck special corner waktu breakfast dan biasanya saya selalu puas.
Pagi ini,saya memang benar2 puas..Biasanya,makanan tradisional yang ada di Hotel jadi kurang sedap..Karena terlalu "bersih"..Di Santika, memang bersih tapi rasanya sama bahkan lebih sedap...Selain Nasi Ayam, pagi ini ternyata juga ada Tahu Gimbal.
Di Surabaya, kota kelahiran saya, semacam tahu tek tek..Bumbunya agak hitam, tapi lezat...Ada tahu, gubis, kentang goreng tipis dan mihun..wow..Tapi selain itu, pagi ini juga ada jajan pasar seperti Wingko Babat dan Lopis...Kalau sudah begitu, saya sudah gak menyentuh Dim Sum dan Omelette lagi...
Ini adalah contoh Diferensiasi Kuliner pada sebuah Hotel yang memposisikan diri sebagai local chain terbesar dan terbaik di Indonesia..Posisi yang dulu mau diduduki Sahid Group..
Kalau Aryaduta sebagai jelmaan Hyatt di Indonesia mencoba memposisikan diri di jajaran bintang lima, tapi tidak terlalu gampang,karena berhadapan langsung dengan International Chain, Santika cukup "smart". Mengambil segmen di bintang tiga dan empat maka,Santika Chain jadi jelas Diferensiasi nya..Dan...di era New Wave,memang tidak boleh main main...Diferensiasi yang diambil,dalam hal ini Kuliner Lokal,harus benar benar merupakan Codification of the Local DNA !
Dengan demikian,barulah ada Clarification terhadap Positioning Brand Santika sebagai Hotel Chain
Dan seperti yang saya state ber ulang ulang bahwa Brand must have Character..Tanpa Karakter yang jelas,Brand akan semakin susah bersaing...





jarang sekali ada hotel yang masakan tradisional Indonesianya lebih enak dari pinggir jalan, maklum biasanya selera disesuaikan selera barat, sehingga kurang bumbu.
Posted by: Investasi | Oct 20, 2009 at 04:46 AM
Selamat Pagi Pak Hermawan
saya Okto Zainuddin mahasiswa Universitas Sumatera Utara
Benar Brand Harus berkarakter tetapi yang menjadi pertanyaan saya kepada bapak adalah di era perkembangan teknologi sekarang ini perilaku para konsumen dalam memutuskan pembelian seperti perilaku konsumen hybrid sendiri apakah tetap membutuhkan brand yang berkarakter atau apa faktor/ variabel yang dimiliki oleh perilaku konsumen hybrid pak ?,sebab apabila kita dapat mengetahui perilaku yang ada maka kita akan dengan mudah menentukan strategi marketing terhadap konsumen
seperti kata saya pak ketahuilah apa yang dinginkan maka akan ada usaha untuk mencapainya, tetapi apabila tidak mengetahui keinginan maka akan terambang ambang dilautan angkasa selamanya....
terima kasih sebelumnya pak...
Vito_bisnis@yahoo.co.id
Posted by: Okto Zainuddin | Oct 21, 2009 at 11:22 AM