Ngobrol dengan Dubes Ibrahim Ambong di KBRI Santiago memang mengasyikan. Sebagai bekas Ketua Komisi 1 DPR RI, kelihatan beliau masih tetap mengikuti kejadian di tanah air. Naluri politiknya tajam. Analisa terhadap kejadian di Indonesia cukup rasional. Tapi yang mengagumkan saya, adalah bagaimana beliau merasa sebagai "statesman" ketika jadi Duta Besar. "Ada banyak yang kita bisa pelajari dari Chili. Negara ini hanya punya penduduk sekitar 16 juta orang, tapi bisa jadi semacam hub dari Amerika Latin" ujar beliau.
Chili yang ada di Pacific Rim sangat aktif mengembangkan hubungan politik dan dagang bukan cuma dengan Amerika Serikat, tapi juga dengan Asia. "Infrastruktur yang merupakan jantung perekonomian luar biasa perkembangannya di Chili" tambah Dubes Ibrahim Ambong. Saya sendiri merasakan itu. Ketika sempat diantar Direktur IPTC (Indonesia Trade Promotion Center ) Santiago, Ali Akbar Hehahitu ke kota pelabuhan Valparaiso yang bersebelahan dengan kota turis Vina del Mar, semua jalan yang dilalui mulus.
Disebelah saya adalah Untung Suwarso, Direktur dari Indonesia Trade Promotion Center atau ITPC di Sao Paulo. Foto ini diambil di kantor ITPC yang berlokasi di Edificio Park Lane, Alameda Santos 1787. Tugas Pak Untung adalah mempromosikan produk Indonesia di Brazil. Karena itu, ruangan tamu kantor ITPC mirip Showroom yang dipenuhi oleh berbagai sampel produk.
Sebagai pejabat senior Depdag, Pak Untung sudah pernah ditempatkan di Tokyo juga sebagai Atase Perdagangan di KBRI disana. Dari pembicaraan saya, kelihatan Pak Untung yang pernah mengambil Graduate Program di Amerika itu, sangat analitis.
Ini hanya beberapa contoh dari hasil analisa Pak Untung terhadap dua puluh Komoditi Indonesia, baik yang Utama maupun yang Potensial. Dengan melakukan analisa seperti itu, maka upaya ITPC bisa lebih terfokus. Di Kelapa Sawit, misalnya yang diperlukan tentunya “defensive strategy”, karena share sudah besar. Sedang di kelompok Karet dan Komponen Motor, lebih diperlukan “offensive startegy”.
Recent Comments